Kabarjempol.com - Kabar penahanan Terpidana Kasus Penodaan Agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menuai banyak reaksi dari berbagai kalangan. Salah satu contohnya, inisiator pengumpulan  fotokopi KTP warga DKI Jakarta sebagai jaminan, Susy Rezky.



Ditemui usai acara menyanyikan lagu-lagu nasional yang dipimpin oleh Addie MS, Susy mengatakan ia dan teman-temannya sempat kaget mendengar kabar penahanan Ahok dengan vonis hukuman dua tahun penjara.

"Beliau kan orang kerja, terbukti kerjanya bagus, kok dianggap kriminal dan dianggap kaya mau kabur sampai harus ditahan segera. Itulah yang menggerakkan teman-teman untuk memberikan penjaminan untuk penahanan luar Pak Ahok," ujar Susy saat ditemui di Balai Kota, Rabu (10/5).

Ia dan sejumlah teman-teman kemudian berinisiatif mengumpulkan fotokopi KTP dan tanda tangan asli warga DKI Jakarta sebagai dukungan pada Ahok. Warga sangat antusias dan mengumpulkan KTP

"Yang mau kasih KTP banyak tapi harus terkendala tanda tangan asli," katanya.



Susy kemudian mengaku pengumpulan foto kopi KTP ini tanpa sepengetahuan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. "Belum, kita nggak ada koordinasi. Ini ide spontan buat kumpulin," ujarnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Tjandra Srijaya tak ambil pusing dengan dukungan para warga yang lewat pengumpulan fotokopi KTP.

"Kami tidak melihat itu positif atau tidak. Itu di luar putusan kami, tapi yang jelas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan jaksa dan karutan (kepala rutan) tentunya kami akan melaporkan hal ini ke Komnas HAM karena telah terjadi perbuatan melawan hukum, merampas hak asasi Pak Ahok pada jeda putusan diputus sampai jam delapan malam terbitnya penetapan penahanan," ujar Tjandra.

Tjandra selanjutnya mengatakan jaminan dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat serta tokoh masyarakat seperti pimpinan partai maupun dari para pemuka masyarakat sudah cukup.

"Jaminan kan sudah diberikan kepada Pak Djarot juga tokoh-tokoh masyarakat yang lain, baik dari pimpinan partai maupun dari para pemuka masyarakat, saya rasa cukup tentunya. Di selama persidangan mestinya hakim kan melihat Pak Ahok itu sangat kooperatif dan itu sudah diucapkan dalam pertimbangannya sehingga penahanan ini sendiri menimbulkan keanehan," katanya. (Sumber : Republika.com)

Kabarjempol.com -Moon Jae-in telah terpilih sebagai Presiden Korea Selatan (Korsel) yang baru. Ia mengalahkan dua kandidat calon presiden lainnya yakni Hong Joon-pyo dan Ahn Cheol-soo pada pemilu yang digelar Selasa (9/5) lalu.





Moon memiliki sejarah yang cukup menarik. Ia merupakan anak pengungsi asal Korea Utara (Korut). Ketika Perang Korea meletus, kedua orangtuanya meninggalkan Korut dan pindah ke Korsel. Ketika dia lahir tahun 1953, keluarganya tinggal di pulau selatan Geoje.

Menurut otobiografinya, ayahnya bekerja di sebuah kamp tawanan perang. Sedangkan ibunya merupakan penjual telur di kota pelabuhan Busan.

Pada 1972, Moon mulai menempuh pendidikan di sekolah hukum. Namun ia tak lama berada di sekolah tersebut. Moon ditangkap karena memimpin demonstrasi menentang peraturan otoriter Park Chung-hye, yang notabene ayah dari mantan presiden Korsel yang baru saja dimakzulkan karena kasus korupsi, Park Geun-hye. Ia dikirim ke penjara.

Enam tahun kemudian, Moon yang telah bebas mendirikan sebuah firma hukum yang konsen pada isu-isu hak asasi manusia dan hak-hak sipil. Ia membuka firmanya di Busan bersama rekannya Roh Moo-hyun, yang belakangan juga menjadi presiden Korsel.

Mantan rekannya di firma tersebut, Seol Dong-il, mengingat Moon sebagai pribadi yang tekun dan kutu buku. Ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan pengadilan.

Seol juga kerap melihat Moon menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengar keluhan dari para kliennya. “Ketika para pekerja meminta nasihat darinya, Moon biasanya duduk berjam-jam untuk mendengarkan mereka,” ungkap Seol seperti dilaporkan laman BBC.

Moon dan Roh Moo-hyun akhirnya menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan pro-demokrasi yang terjadi di Korsel. Gerakan ini menghasilkan pemilihan demokratis pertama Korsel pada 1987. Pada momen ini, Roh memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Sedangkan Moon memilih untuk mengelola firmanya dan membantu warga sipil yang membutuhkan advokasi hukum.

Pada 2003, Roh terpilih menjadi presiden Korsel. Kala itu Roh segera menjadikan Moon sebagai pembantu utamanya. Sejak saat itu Moon selalu dijuluki “Shadow of Roh” atau Bayangan Roh.

Kendati dipilih langsung oleh presiden untuk membantunya, Moon agak rikuh dengan jabatannya. Pada 2011, Moon pernah menulis, “Saya selalu merasa tidak nyaman. Saya merasa pekerjaan itu (pembantu utama presiden) tidak cocok untuk saya, seolah-olah saya mengenakan pakaian yang tidak sesuai. Saya selalu berpikir ‘Saya akan kembali ke tempat saya, menjadi pengacara.”

Pada 2007, Moon sempat mendapat tudingan miring dan kecaman keras. Pemerintahan saat itu dituduh telah berkonsultasi dengan Korut sebelum memutuskan abstain dalam sebuah voting PBB mengenai resolusi hak asasi manusia melawa Korut pada 2007. Moon membantah tuduhan tersebut.




Pada 2009, Moon harus kehilangan kawan seperjuangannya, Roh Moo-hyun. Dia bunuh diri setelah penyidik korupsi menuduhnya menerima suap senilai 4,6 juta dolar AS.

Dalam memoar 2011 Moon menulis bahwa hidupnya sangat banyak dipengaruhi oleh Roh. “Dia benar-benar mendefinisikan hidup saya. Hidup saya akan banyak berubah jika saya tidak bertemu dengannya. Jadi dia adalah takdir saya,” tulis Moon dalam memoarnya.

Bertolak dari momen tersebut, Moon akhirnya memutuskan untuk mencoba mencalonkan diri sebagai presiden Korsel. Pencalonan perdananya terjadi pada 2012 lalu. Tapi perolehan suaranya masih kalah tipis dengan Park Geun-hye.

Pada 9 Mei 2017, lebih dari dua dekade setelah dia memimpin Korsel menuju pemilihan demokratis perdananya, Moon terpilih sebagai presiden. Tugas berat telah menantinya, terutama berkaitan dengan ketegangan di Semenanjung Korea yang dipicu oleh proyek rudal nuklir Korut.

Dalam sebuah buku yang dirilis tahun ini, Moon mengungkapkan bahwa dia masih memimpikan untuk kembali ke kota asalnya di Korut, yakni di Hungnam. “Ketika reunifikasi damai datang (Korsel-Korut), hal pertama yang ingin saya lakukan adalah membawa ibu saya yang telah berusia 90 tahun pergi ke kota asalnya (Hungnam),” tulis Moon dalam bukunya.

Kabarjempol.com - Semenjak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga pencalonan Preside RI 1, bahkan hingga kini masih bergulir isu-isu tak sedap dari orang-orang yang tak sedap pula.


Pembunuhan karakter Jokowi bahwa Jokowi adalah keturunan PKI sudah dilakukan  oleh kampanye hitam capres menjelang Pilpres 2014 . Menepis isu miring dalam kampanye hitam capres, Keluarga Jokowi mengadakan napak tilas. Inilah silsilah keluarga Jokowi. Simak baik-baik ya.. dan siap-siap bengong bagi haters!

Wahyono, paman Jokowi  menerangkan silsilah keluarganya.  Dia menuturkan ayahnya yakni Lamidi Wiryo Miharjo adalah seorang kepala desa (Kades) Kranggan yang menjabat hingga 30 tahun lebih. Di rumah tersebut dulu tinggal Lamidi Wiryo Miharjo bersama sang istri Painem dan kelima putranya, masing-masing Wijayatno, Wahyono, H. Mulyono Herlambang, Joko Sudarsono dan Heru Purnomo.

Putra pertamanya bernama Wijayatno ini kemudian menikah dengan Hj. Sujiatmi, anak pedagang kayu di Gumukrejo, Kelurahan Giriroto, Kecamatan Ngemplak Boyolali bernama Wirorejo dan pasangannya Sani.

Bahwa sesuai dengan tradisi masyarakat pedesaan setelah menikah namanya bergelar Notomiharjo. Dari pernikahan keduanya inilah lahir empat orang putra, bernama Joko Widodo (Jokowi), Hj. Sriyatin, Hj. Idayati dan Hj. Titik Ritawati.

“Di sinilah ayah Jokowi lahir dan bukan dari Singapura. Tidak ada tampang wong luar negeri malah tampang ndeso,” tuturnya.

Bukan Singapura

Senada disampaikan keluarga lainnya, Mulyono Herlambang. Dia mengatakan ayahnya Jokowi meninggal dunia pada usia 60 tahun. Ayahnya hanya seorang wong ndesa dan bukan berasal dari luar negeri.

“Memang tampang keluarga kami seperti orang Tionghoa. Saya saja kalau tidak tahu ya dikira wong China. Padahal bukan asli ndeso,” tuturnya.

Menurutnya, gencarnya pemberitaan yang memojokan Jokowi sangat membuat keluarga tidak nyaman. Apalagi Jokowi disebut-sebut berasal dari Singapura bahkan dituding sebagai keturunan PKI. Padahal asal muasal keluarganya jelas di mana sang ayah berasal dari Gondangrejo, Karanganyar dan ibunya dari Ngemplak, Boyolali.

“Jokowi sampai sekarang sering ke sini. Wong ini rumah kakeknya ya di sini. Tiap tahun nyekar ya ke sini, jadi bukan dari Singapura. Jadi masyarakat biar jelas ini lho asalnya Jokowi,” tegasnya.

Sementara dalam bagian sejarah lain disebutkan dalam Legenda Ciung Wanara, disebut jika Ciung Wanara mempunyai saudara satu ayah lain ibu yang bernama  HARIANG BANGA. Mereka berdua diberi kekuasaan oleh sang ayah (Raja/Prabu Permana Di Kusumah ) , Ciung Wanara ke tanah Sunda kemudian melahirkan Raja-raja dan kerajaan Sunda (Pajajaran) dan Hariang Banga melahirkan raja-raja dan kerajaan Jawa (Majapahit).

Menariknya,  dari beberapa refrensi yang saya temukan  Jokowi  pun rupanya berasal dari keturunan Majapahit, dari trah Ki Juru Martani / Kyai Adipati Mandaraka , seorang  arsitek  politik "Dinasty Mataram", anggota keluarga besar keturunan Brawijaya,  tokoh agama  dan  Penasehat Panembahan Senopati  keturunan Raja Majapahit terakhir  yaitu Raja Brawijaya.


Silsilah Joko Widodo (Jokowi)  dapat dilihat dari rangkaian trah yang panjang sejak Ki Juru Mertani , Sunan Giri , Raja Hayam Wuruk alias Maharaja Sri Rajasanagara  (Raja Majapahit ke-4), dan Hariang Banga, saudara Ciung Wanara putra dari Raja Prabu Permana Di Kusumah) tahun 739 – 783 Masehi. Yaitu:

1. Ki Ageng Djuru Martani (Maha Patih Mataram Kotagedhe)
1.1. Pangeran Adipati Manduraredjo (Ki Djuru Wiroprobo I)
1.1.1. RM Tmg Karto Nagoro
1.1.1.1. Kyai Gulu
1.1.1.1.1. Kyai Honggowongso
1.1.1.1.1.1. Kyai Niti Manggolo (Kyai Kerti Manggolo I)
1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Jalal I (Pendiri Perdikan Kalioso, Solo Utara)

Di versi lain disebut jika Kyai Andul Jalal I mempunyai putra bernama Kiai Yahya, salah seorang Pengawal Pangeran Diponegoro.

Nama ayah dari Joko Widodo (Jokowi), adalah Wijiatno (Noto Miharjo) bin Lamidi Wiryo Miharjo bin Mangun Dinomo yang menikah dengan Sujiatmi.  Kakek Jokowi adalah  Lamidi Wiryo Mihardjo keturunan Mangun Dinomo yang kemudian jika dilacak dan diteruskan akan berujung pada trah Kyai Yahya. 

Yang  kemudian  lagi jika diteruskan mengarah pada Ki Juru Mertani,  Sunan Giri alias Raden Paku (1442 M) dan Raja Hayam Wuruk - Raja Majapahit  tahun 1350-1389 M hingga Hariang Banga (739-783 Masehi).

Jadi jelas silsilah dan keturunan Jokowi, bukan asli singapura dan juga bukan PKI.

Walau demikian tentu saja hatters masih saja bersikukuh dengan pendapat dan pemikiran mereka.
Tapi faktanya yang harus diakui,

Jokowi yang kau katakan PKI inilah yang menghidupkan upacara - upacara bendera di semua sekolah.

Jokowi yang kau katakan PKI inilah yang menghidupkan lagu Indonesia raya yang kini tiap hari bisa kau dengar di semua televisi nasional.

Jokowi yang kau katakan PKI inilah yang pertama menetapkan hari santri nasional.

Jokowi yang kau katakan PKI inilah selalu tersenyum walau bertahun - tahun kau hina dan kau hujat dengan pedas.

Bukankah PKI itu kejam bin sadis?

Sungguh tak ku dapatkan kekejaman dan kesadisan dibalik gurat senyum Jokowi.

Bila Jokowi itu kejam dan sadis karena kau bilang keturunan PKI, mungkin tidak akan ada pencairan dana lapindo yang sudah 9 tahun itu.

Mungkin pengungsi sinabung masih terlunta - lunta tak jelas di penampungan sejak 9 bulan terakhir menjelang SBY lengser.

Mungkin jalan - jalan, waduk - waduk, bandara, dan pelabuhan dibiarkan saja menjadi mangkrak dan terbengkalai.

Karena mereka yang mempunyai jiwa kejam dan sadis tidak akan melakukan itu bahkan mungkin akan memakai petrus menembak mulut - mulut kalian yang terlalu sadis menghujat!! 

Jadi, sebenarnya yang sadis dan kejam siapa?
Kalian yang suka menghujat mencaci makai atau Jokowi yang selalu senyum dengan cacian kalian?

Lalu kalian akan bilang, itu hanya pencitraan!

Heran.

Sebenarnya siapa yang sedang pencitraan?

Bukankah yang pencitraan itu kalian, para hatters?

Tiap hari update status hahahihi menghujat dan mencaci presiden demi untuk bisa eksis tiap hari.

Ditambah membuat web abal - abal demi eksis dan menaikkan pencitraan kalian

Dengan menjelek-jelekan presiden dari pagi sampai  pagi lagi. Dari senin sampai senin lagi. dari januari sampai ketemu Januari lagi!

Sementara Jokowi hanya tersenyum dan berkata, "aku ra po po!"

Jadi sebenarnya siapa yang sadis dan kejam?

Siapa yang PKI ?!

Jawab saja sendiri

Sumber berita teratas

Kabarjempol.com - Adu tudingan kembali terjadi antara bakal calon gubernur DKI Sangiaga Uno dengan petahana Basuki Tjahaja Purnama atau ahok. Kali ini Isunya terkait pengamanan oleh Brimob yang menurut Sandiaga mencapai 200 personel.


Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun langsung menanggapi tudingan Sandiaga Uno yang menyebut bahwa Ahok dijaga oleh 200 personel Brimob dalam menjalankan aktivitasnya itu.

Ahok berkata bahwa dirinya justru dijaga oleh 2.000 malaikat surgawi selama menjabat sebagai Gubernur DKI.

“Sampaikan sama Sandi, aslinya tuh lebih dari 2.000 pasukan malaikat surgawi yang jaga gua,” kata Ahok di Jakarta, Jumat malam. 

Ahok kemudian bertanya kepada wartawan, pernah tidak ada yang melihatnya dikawal oleh personel Brimob. Ia menegaskan bahwa tidak ada pengawalan khusus yang diberikan oleh pihak kepolisian.

“Lu pernah lihat gua dikawal sampai 200 orang enggak? (Dikawal) 10 (personel Brimob) saja enggak pernah,” ujar Ahok.

Bila memang ternyata ada ratusan personel Brimob menjaganya, menurut Ahok itu sama saja melebihi pengawalan yang diberikan untuk seorang presiden.

Diberitakan sebelumnya, Sandiaga Uno yang juga merupakan bakal calon gubernur DKI mengaku dapat informasi bahwa Ahok mendapatkan pengawalan hingga 200 personel Brimob tiap hari.

Andryega da Silva, Ketua PARFI baru menggantikan Gatot Brajamusti

Kabarjempol.com - Gatot Brajamusti telah dicopot dari jabatannya sebagai ketua umum PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia).

Hal tersebut dilakukan usai ditangkapnya Gatot saat menggelar pesta sabu di sebuah hotel di kawasan Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (29/8/2016).

Ketua PARFI yang baru, Adryega Da Silva, belum dapat menempati ruangannya di kantor pusat PARFI di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, karena ruangan tersebut terkunci rapat.

Polisi mengunci rapat ruangan tersebut karena beberapa hari lalu saat melakukan investagasi ke ruang kerja Gatot didapati sebuah berangkas.

Hal itu juga dikonfirmasi oleh kepala sekretariat PARFI, MH Thamrin, saat ditemui di ruang kerja kantor PARFI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/9/2016).

"Iya ruangannya masih ditutup buat penyelidikan, ada berangkas didalamnya yang bisa buka cuma aa Gatot," ungkapnya.

MH Thamrin mengatakan kalau berangkas itu dibawa Gatot ke kantor PARFI, sekitar tiga bulan lalu, dan selama ini tidak ada yang pernah mengetahui isi berkas tersebut.
"Sekitar tiga bulanan lalu lah, berangkas dibawa, tidak ada yang tahu apa isinya," ucap MH Thamrin.(*)


Kabarjempol.com - Pengurus Front Pembela Islam (FPI) Habib Novel Bamukmin menilai, Basuki Tjahaja Purnama memimpin DKI Jakarta dengan penuh kezaliman, arogan, sombong dan tidak punya hati nurani.

Karena itu, Novel mengajak umat Islam dan warga Jakarta bersama-sama mengadang gubernur yang akrab disapa Ahok tersebut menang dalam Pilkada DKI 2017 mendatang.

Menurut Habib, pandangannya bukan sekadar opini. Dia mencontohkan sejumlah kebijakan yang sudah diambil Ahok. Terbaru ialah keputusan Ahok menggusur sejumlah warga yang bermukim di Rawajati, Pancoran, Kamis (1/9) kemarin.

"Akibat perbuatannya, bahkan (ada) anak yatim yang seharusnya dilindungi, dijaga, tapi digusur. Jadi Ahok ini pemimpin arogan, penuh kesombongan, pemimpin enggak punya hati nurani, pemimpin tukang gusur, pembuat sengsara rakyat," ujar Novel, Jumat (2/9).

Agar Ahok tak lagi terpilih, Habib Novel mengajak seluruh rakyat Jakarta merapatkan barisan.

"Belum pernah ada gubernur sebiadab Ahok, tidak punya hati nurani. Kami terusik, kita lihat pedagang hewan kurban yang turun-temurun dagang, begitu Ahok jadi gubernur digusur," ujarnya.

Novel tidak peduli kalau kemudian ada pihak yang menyatakan gerakan menolak Ahok sebagai kampanye hitam. 

Bahkan Novel juga mengecam warga yang memberikan dukungan kepada Ahok. Novel menuding pendukung Ahok adalah orang yang tak ber-Tuhan. Novel juga mengucapkan kata-kata provokatif.

‎"Yang tidak berani melawan Ahok akan masuk neraka. Salatnya, ibadahnya tidak akan diterima Tuhan. Hati-hati saudara.‎ Lawan Ahok sampai darah penghabisan, tidak usah takut," ujar dia.

‎Novel juga mengeluarkan cacian kepada Ahok. Menurut dia Ahok adalah gubernur yang paling banyak gagalnya dan menyengsarakan warga kecil.

"Belum ada gubernur seburuk Ahok ini. Dia makan babi, minumnya air comberan, perutnya kotor," tutur dia.

Di berbagai kesempatan, Ahok mengatakan bila ada calon gubernur yang lebih baik, warga diimbau jangan memilih Ahok lagi di pilkada tahun 2017.

Bagi Ahok pemimpin Jakarta harus tokoh yang tegas, disiplin, dan jujur.

Waduh...komplit banget umpatan terhadap Ahok. Rupanya habib Novel bamukmin belum juga kapok terhadap kasus sebelumnya dimana dirinya pernah ditangkap polisi terkait kasus SARA. 

Sekretaris Daerah FPI DKI Jakarta itu pernah menjadi buronan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus anarkisme radikalisme intoleran saat demo di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Foto Novel disebar lewat media sosial, termasuk twitter, sejak pagi ini, Rabu (8/10/2014). Wajah Novel yang memakai baju putih dan sorban putih ditampilkan. 

Bahkan Usai divonis 7 bulan penjara, Habib Novel Bamukmin terdakwa demo ricuh FPI di Kebon Sirih malah menghujat Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Habib Novel bersama simpatisan malah melontarkan kata-kata yang memojokan Ahok.

"Vonis ini rekayasa dan Ahok tetap Gubernur ilegal!" ujar habib Novel usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Jl Gadjah Mada, Jakarta, Senin (6/4/2015).

Habib Novel keluar dari ruang sidang disambut oleh simpatisan FPI. Mereka meneriakkan takbir sambil mengantar habib Novel ke ruang tunggu tahanan.



Atas kejadian ini, Bagaimana menurut anda?



Editor: Lisa Kurniasih/Jpnn.com
Powered by Blogger.
close