Kabarjempol.com – Islam itu rohmatan al-alamin, suka dengan perdamaian dan toleran dengan umat beragama lainnya. Terbukti ketika muslim berpartisipasi untuk memadamkan api yang sudah mulai membakar pintu gereja di Bantul.
Isu mengenai keretakan diantara umat beragama menjadi isu yang sangat hangat diperbincangkan sampai saat ini. Buntutnya muncul ketegangan yang membuat umat beragama untuk saling curiga.
Contoh pertama datang ketika terjadi pembakaran sebuah masjid di Tolikora. Pembakaran ini lantas membuat kerukunan beragama menjadi sangat rentan. Dan muncul isu jika nantinya akan terjadi pembalasan dari umat islam.
Lain di Tolikora, lain di Bantul. Meskipun terjadi pembakaran sebuah gereja, namun masyarakatnya tetap rukun. Terbukti dengan muncullnya bantuan dari umat islam dalam memadamkan api yang mulai membesar.
Kejadian tersebut terjadi pada hari senin 20 juli 2015 kemarin. Tepatnya di gereja baptis indonesia saman. Seperti yang dikatakan oleh Kabid Humas polda DIY yang kabarjempol kutip dari CNN Indonesia ”Kemarin sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, warga yang tinggal disebelah Gereja Baptis Indonesia Saman melihat ada api. Ternyata ada ban terbakar yang digantung di pintu gereja. Ban itu sudah lebih dulu disiram bensin.”
Sebelum terjadi kebakaran di Gereja tersebut, warga sekitar melihat ada seseorang yang mondar-mandir didekat gereja tersebut. Namun warga tidak merasa curiga dengan orang tersebut sampai beberapa menit ada teriakan kebakaran.
Dari sini, berdatanganlah warga sekitar baik umat islam maupun nasrani. Mereka berbondong-bondong untuk memadamkan apinya tanpa mempedulikan status perbedaan. Yang ada adalah kerukunan diantara warga sekitar.
“Maka warga sekitar bersama-sama memadamkan api, tak peduli muslim atau non-muslim.” Kata Kabid Humas DIY.
Sementara menurut pengakuan dari pendeta di Gereja tersebut, masyarakat disekitar gereja tersebut rukun, dan warganya hidup berdampingan rukun dan harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa warga sekitar tidaklah memiliki masalah khususnya yang berhubungan dengan keretakan antar umat muslim dan non-muslim.
Nah, mengenai pelaku pembakaran gereja tersebut masih diteliti. Baik MUI (majelis ulama indonesia) maupun PGI (persatuan gereja indonesia) mensinyalir pelaku pembakaran tersebut dilakukan oleh pihak ketiga yang tujuannya adalah untuk mengadu domba umat beragama.
Hal ini tidak lain dikarenakan banyaknya peristiwa pembakaran rumah ibadah yang terjadi di waktu-waktu tersebut, misalnya di Tolikora Papua dan di Purworejo.
Dengan muncullnya peristiwa tersebut, tokoh agama menyerukan agar diantara umat beragama tidak terpancing dan terprovokasi masalah tersebut. Dan mereka juga menghimbau agar kerukunan antara umat beragama masih terjalin.
Isu mengenai keretakan diantara umat beragama menjadi isu yang sangat hangat diperbincangkan sampai saat ini. Buntutnya muncul ketegangan yang membuat umat beragama untuk saling curiga.
Contoh pertama datang ketika terjadi pembakaran sebuah masjid di Tolikora. Pembakaran ini lantas membuat kerukunan beragama menjadi sangat rentan. Dan muncul isu jika nantinya akan terjadi pembalasan dari umat islam.
Lain di Tolikora, lain di Bantul. Meskipun terjadi pembakaran sebuah gereja, namun masyarakatnya tetap rukun. Terbukti dengan muncullnya bantuan dari umat islam dalam memadamkan api yang mulai membesar.
Kejadian tersebut terjadi pada hari senin 20 juli 2015 kemarin. Tepatnya di gereja baptis indonesia saman. Seperti yang dikatakan oleh Kabid Humas polda DIY yang kabarjempol kutip dari CNN Indonesia ”Kemarin sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, warga yang tinggal disebelah Gereja Baptis Indonesia Saman melihat ada api. Ternyata ada ban terbakar yang digantung di pintu gereja. Ban itu sudah lebih dulu disiram bensin.”
Sebelum terjadi kebakaran di Gereja tersebut, warga sekitar melihat ada seseorang yang mondar-mandir didekat gereja tersebut. Namun warga tidak merasa curiga dengan orang tersebut sampai beberapa menit ada teriakan kebakaran.
Dari sini, berdatanganlah warga sekitar baik umat islam maupun nasrani. Mereka berbondong-bondong untuk memadamkan apinya tanpa mempedulikan status perbedaan. Yang ada adalah kerukunan diantara warga sekitar.
“Maka warga sekitar bersama-sama memadamkan api, tak peduli muslim atau non-muslim.” Kata Kabid Humas DIY.
Sementara menurut pengakuan dari pendeta di Gereja tersebut, masyarakat disekitar gereja tersebut rukun, dan warganya hidup berdampingan rukun dan harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa warga sekitar tidaklah memiliki masalah khususnya yang berhubungan dengan keretakan antar umat muslim dan non-muslim.
Nah, mengenai pelaku pembakaran gereja tersebut masih diteliti. Baik MUI (majelis ulama indonesia) maupun PGI (persatuan gereja indonesia) mensinyalir pelaku pembakaran tersebut dilakukan oleh pihak ketiga yang tujuannya adalah untuk mengadu domba umat beragama.
Hal ini tidak lain dikarenakan banyaknya peristiwa pembakaran rumah ibadah yang terjadi di waktu-waktu tersebut, misalnya di Tolikora Papua dan di Purworejo.
Dengan muncullnya peristiwa tersebut, tokoh agama menyerukan agar diantara umat beragama tidak terpancing dan terprovokasi masalah tersebut. Dan mereka juga menghimbau agar kerukunan antara umat beragama masih terjalin.

Post a Comment